Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menegaskan, turunnya elektabilitas calon presiden Joko Widodo atau Jokowi karena yang bersangkutan meninggalkan posisinya sebagai Gubernur Jakarta.
Ahok mengakui dari dulu masyarakat tidak suka dengannya menjadi gubernur, tapi mesti 50+1. Dia menjelaskan dari pertama waktu Jokowi memutuskan ingin maju bersama Ahok, hal ini sudah banyak pertentangan di dalam internal PDI Perjuangan.
"Karena waktu itu hampir semua dari sekian yang diseleksi kan ada nama saya dan Deddy Mizwar. Hampir semua yang di dalam PDIP lebih suka memilih Jokowi – Deddy, karena mungkin pikirannya Betawi, aktor, Muslim, enggak ada yang kepikiran Ahok," kata Ahok di Jakarta, Selasa (17/6/2014).
Setelah masuk dua nama itu muncul Ahok dan itu dinilai sudah nasibnya. Namun, kenapa warga Jakarta memilih Ahok pada pemilu gubernur 2012. Padahal, sudah tahu Ahok galak dari Belitung Timur sama saja ketika di DPR tidak berubah.
"Semua orang tahu sifat saya sama, kalau benar bilang benar, kalau enggak bilang enggak. Kamu kalau enggak mau pilih saya lagi, enggak usah pilih saya lagi. Kalau kampanye saja saya berani ngusir kamu jika ngeyel-ngeyel di depan saya minta duit dan pulsa," ujarnya.
Jadi, kata Ahok, sebenarnya sudah diperkirakan dari awal kalau Jokowi bakal turun jika berdamipingan dengannya. Tapi, itu tidak ada efek. Makanya sekarang harus taat konstitusi saja, begitu juga Jokowi sepemikiran dengan Ahok.
"Kalau saya menuruti, yang tidak senang sama saya sampai dia senang. Pasti yang tadinya senang menjadi enggak senang. Kamu mau menuruti yang mana, mendingan saya nurutin konstitusi dengan segala risiko, toh hanya butuh 50%+1 untuk jadi gubernur dan presiden. Kalau butuh 99% yang saya repot. Kalau cuma 50+1 permainan terlalu gampang," jelas dia.
Ahok menuturkan, memang sejak awal sudah sadar kalau titik kelemahannya itu adalah soal agama. Jadi, bukan persoalan Ahok itu galak tapi sudah persoalan agama.
"Ini soal agama, sekelompok orang enggak bisa terima, enggak terima dong si kafir jadi gubernur di ibu kota kan. Ya sudah, lu demen enggak demen gua sudah jadi pembantu lumah tangga (plesetan dari PLT) gubernur sekarang," tandasnya
Ahok mengakui dari dulu masyarakat tidak suka dengannya menjadi gubernur, tapi mesti 50+1. Dia menjelaskan dari pertama waktu Jokowi memutuskan ingin maju bersama Ahok, hal ini sudah banyak pertentangan di dalam internal PDI Perjuangan.
"Karena waktu itu hampir semua dari sekian yang diseleksi kan ada nama saya dan Deddy Mizwar. Hampir semua yang di dalam PDIP lebih suka memilih Jokowi – Deddy, karena mungkin pikirannya Betawi, aktor, Muslim, enggak ada yang kepikiran Ahok," kata Ahok di Jakarta, Selasa (17/6/2014).
Setelah masuk dua nama itu muncul Ahok dan itu dinilai sudah nasibnya. Namun, kenapa warga Jakarta memilih Ahok pada pemilu gubernur 2012. Padahal, sudah tahu Ahok galak dari Belitung Timur sama saja ketika di DPR tidak berubah.
"Semua orang tahu sifat saya sama, kalau benar bilang benar, kalau enggak bilang enggak. Kamu kalau enggak mau pilih saya lagi, enggak usah pilih saya lagi. Kalau kampanye saja saya berani ngusir kamu jika ngeyel-ngeyel di depan saya minta duit dan pulsa," ujarnya.
Jadi, kata Ahok, sebenarnya sudah diperkirakan dari awal kalau Jokowi bakal turun jika berdamipingan dengannya. Tapi, itu tidak ada efek. Makanya sekarang harus taat konstitusi saja, begitu juga Jokowi sepemikiran dengan Ahok.
"Kalau saya menuruti, yang tidak senang sama saya sampai dia senang. Pasti yang tadinya senang menjadi enggak senang. Kamu mau menuruti yang mana, mendingan saya nurutin konstitusi dengan segala risiko, toh hanya butuh 50%+1 untuk jadi gubernur dan presiden. Kalau butuh 99% yang saya repot. Kalau cuma 50+1 permainan terlalu gampang," jelas dia.
Ahok menuturkan, memang sejak awal sudah sadar kalau titik kelemahannya itu adalah soal agama. Jadi, bukan persoalan Ahok itu galak tapi sudah persoalan agama.
"Ini soal agama, sekelompok orang enggak bisa terima, enggak terima dong si kafir jadi gubernur di ibu kota kan. Ya sudah, lu demen enggak demen gua sudah jadi pembantu lumah tangga (plesetan dari PLT) gubernur sekarang," tandasnya

0 komentar:
Posting Komentar